Detail Berita dan Peristiwa

Ganggang mikro atau microalgae memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber bahan bakar alternatif di Pulau Semujur, Provinsi Bangka Belitiung. Selain itu, pengembangan ganggang mikro ini sekaligus bisa menjadi sarana untuk pemberdayaan masyarakat setempat.

 

Melihat potensi tersebut, tim peneliti dari Center for Development of Sustainable Region (CDSR) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menggandeng Universitas Bangka Belitung (UBB) untuk melakukan replikasi taman ganggang mikro sekaligus pembudidayaannya di Bangka Belitung. CDSR merupakan salah satu pusat kolaborasi riset atau Center for Collaborative Research (CCR) dari USAID SHERA.

 

Dekan Fakultas Teknik UBB Wahri Sunanda, S.T., M.Eng., mengatakan bahwa proses penelitian mengenai pengembangan ganggang mikro ini sudah dimulai sejak 2018 lalu. Tim dari CDSR juga sudah melakukan studi kelayakan atau feasibility study dengan mengunjungi langsung ke Pulau Semujur. “Termasuk kami membawa perwakilan warga dari Pulau Semujur untuk melihat langsung microalgae park yang ada di Yogyakarta. Dalam proyek penelitian ini, kami memang benar-benar ingin melibatkan secara langsung warga setempat,” kata Wahri.

Dr. Eko (kanan) sedang memberikan pelatihan kepada pebeliti UBB tentang budidaya ganggang mikro.TRANSFER PENGETAHUAN: Peneliti Micro-algae UGM Dr. Eko Agus Suyono (kanan) memberikan pelatihan kepada peneliti UBB tentang pembudidayaan micro-algae.

 

Menurut Wahri, Pulau Semujur sengaja dipilih sebagai lokasi penelitian karena letaknya yang relatif tidak terlalu jauh dari Pangkal Pinang. Selain itu, pulau tersebut juga sangat minim pasokan listrik dari PLN. Karena itu, sudah tepat apabila proyek penelitian mengenai ganggang mikro ini dilaksanakan di pulau tersebut.

 

Sampai sejauh ini, rencana pengembangan taman ganggang mikro di Pulau Semujur juga sudah didengar oleh pemerintah daerah setempat. Tim UBB sudah melakukan presentasi di depan para pemangku kebijakan dari Provinsi Bangka Belitung. “Pemerintah daerah menyambut positif apa yang saat ini sedang kami lakukan. Kami juga berupaya untuk bisa mendapatkan dukungan dari sektor swasta,” lanjut Wahri.

 

Karena itu, pada 22 Februari 2020 lalu peneliti ganggang mikro dari UGM Dr. Eko Agus Suyono datang ke UBB untuk memberikan pelatihan secara langsung kepada tiga orang peneliti UBB. Dr. Eko memberikan materi tentang pembuatan medium untuk pengembangan ganggang mikro sekaligus cara pembudidayaannya. Pelatihan dilakukan di laboratorium Fakultas Ilmu Kelautan UBB.

Menurut Dr. Eko, secara sederhana dapat dijelaskan bahwa microalgae ini bisa menjadi salah satu alternatif sumber bio-energy dengan mengambil dari karbohidratnya. Hanya, sampai saat ini memang sumber energi dari microalgae ini masih belum banyak digunakan. “Sebenarnya relatif lebih cepat [produksinya] daripada sumber energi yang berasal dari sawit yang membutuhkan waktu berbulan-bulan,” kata Dr. Eko. Kendati demikian, bio-energy dari microalgae ini harganya juga masih cukup tinggi.

 

Dr. Eko sendiri sudah secara langsung mengunjungi Pulau Semujur. Saat itu, dia bersama tim peneliti UGM dan UBB melakukan studi kelayakan. Saat ini, microalgae park sudah ada di Kawasan Nogotirto, Yogyakarta dan rencananya akan direplikasi di Pulau Semujur. Di harapkan ke depan penelitian ini bisa berlanjut dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Sehingga Pulau Semujur akan memiliki pasokan energi yang dapat terbarukan untuk bisa memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.

Kategori: Lingkungan, Energi, & Ilmu Kemaritiman

Komentar
Leave a Comment