Detail Proyek Penelitian

Tahukah Anda bahwa saat ini bangunan menyerap 40% energi yang dikonsumsi dunia? Penggunaan pendingin ruangan, televisi, komputer, dan alat eletronik lainnya menyebabkan penggunaan listrik menjadi sangat besar. Manusia menjadi sangat bergantung dengan listrik dalam kehidupan sehari-hari terutama di dalam ruangan. Adalah Dr. Donny Kurniawan dan Nissa Aulia Ardiani, peneliti USAID SHERA dari Program Studi Arsitektur, Institut Teknologi Bandung (ITB), yang mengembangkan fasad / selubung dinding dari ganggang yang bisa menurunkan konsumsi energi suatu bangunan.

 

Keduanya menyadari ganggang menjadi sumber energi yang potensial setelah berkolaborasi dengan Dr. Eko Agus Suyono, ahli ganggang Universitas Gadjah Mada dalam Center for Development of Sustainable Region (CDSR). Mereka kemudian mengembangakan medium yang ideal menjadi tempat hidup algae alah lebih optimal berfotosistesis. Ganggang yg digunakan berjenis algae chlorella. Ganggang ini kemudian dirancang untuk diletakkan secara vertikal menyelubungi bangunan. Ganggang ini akan menghirup karbon dioksida dan menghasilkan oksigen yang dibutuhkan untuk pernafasan manusia. Oksigen ini kemudian dialirkan ke dalam ruangan. Efeknya ruangan akan menjadi lebih sejuk dan tidak memerlukan pendingin ruangan sehingga konsumsi energi akan berkurang. Ganggang juga akan menyerap karbon dioksida sehingga mengurangi polusi di sekitar bangunan tersebut. 

 

 

Dalam pengembangannya, tim ini juga berkolaborasi dengan Prof. Moncef Krarti dari University of Colorado Boulder (UCB). Dalam kunjungan penelitian Dr. Donny & Nissa April 2019 lalu, Prof. Krarti melakukan pendampingan terkait simulasi komputer untuk perhitungan energi dan simulasi rancangan bangunan hemat energi. Beliau juga membuka akses data cuaca yang sebelumnya menjadi hambatan penelitian. “Di Indonesia sangat sulit bagi kami untuk mendapatkan data cuaca detil sampai per jam, di UCB kami mendapat akses yang memudahkan penelitian kami,” ujar Nissa. Selain itu, mereka juga mendapat akses alat-alat penelitian modern di labolatorium Building System Engineering UCB.

 

 

Tantangan Dinding Ganggang 

 

Walaupun dinding ganggang pada bangunan sangat ideal, namun tim ini masih mencari rancangan terbaik untuk mencari solusi dalam pembangunannya. Ganggang yang menyelubungi dinding akan menambah beban terhadap rangka dinding. Ganggang juga harus senantiasa dialiri air dan nutrisi untuk tetap hidup dan berkembang biak. Diperlukan rancangan yang tidak hanya kokoh dan tahan bocor tapi juga ringan untuk bisa menampungnya. “Saat ini kami sedang melakukan eksperimen untuk menemukan solusi terbaik dalam mengatasi tantangan dan resiko tersebut,” jelas Nissa. Selain itu, perawatan ganggang juga penting untuk dipertimbangkan agar penyaluran oksigen ke dalam ruangan dan karbon dioksida ke luar ruangan bisa dilakukan secara optimal.

 

Keuntungan Bangunan Ramah Lingkungan

 

Dinding ganggang memiliki berbagai manfaat lebih untuk lingkungan antara lain meningkatkan sirkulasi udara. Oksigen yang dihasilkan ganggang akan dialirkan ke dalam ruangan sehingga kita bisa menghirup udara yang bersih dan ruangan terasa sejuk tanpa pendingin ruangan. Selain itu, dinding ganggang dapat mengurangi radiasi matahari. Ganggang memiliki fungsi menyaring sinar matahari yang masuk dan menggunakannya untuk berfotosistesis. Selain itu, ganggang juga bisa dipanen setelah satu minggu dan diolah menjadi biomassa. 

 

Bangunan ramah lingkungan dengan ganggang ini sudah pernah dibuat di Jerman dengan nama BIQ House. Dr. Donny dan Nissa juga berencana mempraktekkan penelitian ini di bangunan ITB Innovation Park, Bandung. Penelitian ini juga mendapatkan dana hibah penelitian dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) senilai Rp 400 juta.

 

 

Kategori: Lingkungan, Energi, & Ilmu Kemaritiman