Detail Proyek Penelitian

Perkembangan peradaban manusia telah mendorong meningkatnya penggunaan energi dengan laju yang sangat pesat, khususnya kebutuhan listrik. Hal ini mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan secara signifikan sebagai solusi tepat guna untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Dalam sektor kehutanan, sisa pengolahan produk berupa limbah biomassa dapat menjadi sumber energi baru terbarukan. Salah satu contoh produk biomassa hutan adalah pelet kayu yang merupakan hasil konversi melalui teknik pemadatan (densifikasi) untuk meningkatkan nilai kalornya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di tahun 2014 mengeluarkan kebijakan terkait percepatan pemamfaatan Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk kebutuhan energi dan mendorong penyedia jasa pembangkit listrik untuk menjadi investor. Untuk dianggap sebagai sumber EBT yang berkelanjutan, Center for Development of Sustainable Region (CDSR) melalui Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian tematik dengan topik pengembangan energi biomassa berbasis hutan yang terdiri dari 4 sub-penelitian. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Ir. Ulfah Juniarti, M.Agr., ahli genetika hutan, pemuliaan pohon, dan genetika hutan dari IPB. Dalam penelitian ini, pengambilan data dilakukan oleh  Iswanto, mahasiswa program magister Silvikultur Tropika IPB, di PT Korintiga Hutani - Kalimantan Tengah. Salah satu sub-penelitian tersebut  bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan ketersediaan bahan baku pelet kayu, peran masyarakat, serta faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan HTI biomassa.

semai pohon

PT Korintiga Hutani dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu pemegang konsesi HTI yang telah merevisi rencana tata kelola dengan memasukkan produksi energi dalam bisnisnya. Selain itu, disekitar HTI terdapat Hutan Tanaman Rakyat (HTR) yang berpotensi mendukung program energi biomassa pelet kayu. Jenis pohon cepat tumbuh yang dikembangkan sebagai bahan baku pelet kayu diantaranya adalah jenis Acacia pellita dan eukaliptus. Teknik silvikultur dan pemuliaan pohon dengan beberapa perlakuan telah diterapkan perusahaan untuk meningkatkan produktivitas pertumbuhan pohon. Peneliti berkesempatan melakukan survey di persemaian, kebun klon benih unggul A. pellita dan eukaliptus, serta tegakan HTI.

Tegakan yang telah memasuki daur kemudian ditebang untuk dijadikan produk sawmill, bahan baku kertas dan pelet kayu. Limbah tebangan skala besar atau kecil, berupa daun, ranting, cabang dan potongan kayu kecil berpotensi sebagai bahan baku pelet kayu. Tahap pembuatan pelet kayu meliputi pencacahan dan penggilingan limbah kayu, pegeringan serbuk kayu, pencetakan pelet kayu, pendinginan, serta pengepakan dan penyimpanan. Dalam pembuatannya, diperlukan beberapa bahan baku sebagai pencampur untuk mendapatkan komposisi bahan baku yang tepat, misalkan bahan baku diambil kayu keras dan kayu lunak.

pelet kayu

Selain dari sisi teknis produksi, penelitian dilanjutkan dengan melakukan wawancara kepada masyarakat di sekitar hutan dan pengelola HTR di 3 desa, yakni Desa Topalan, Desa Pangkut dan Desa Melata yang telah melakukan kerjasama dengan PT Korintiga Hutani. Kerjasama yang dijalin berupa bantuan penanaman tanaman bernilai ekonomis. Hal tersebut merupakan upaya perusahan untuk menjaga keberlangsungan pasokan bahan baku kayu maupun limbahnya.

Karakteristik mutu pelet kayu ditentukan berdasarkan SNI 8021:2014 yang meliputi beberapa parameter uji, yakni kerapatan, keteguhan, kadar air, kadar zat terbang, kadar abu, kadar karbon terikat dan nilai kalor. Penyediaan produk yang sesuai dengan spesifikasi standar dan stabil akan mendongkrak daya saing sebuah industri. Indonesia dengan hutan tropisnya berpotensi menjadi pasar pelet kayu mengingat kebutuhan pelet kayu dunia diperkirakan mecapai 50 juta metric ton pada tahun 2020.

Penelitian ini diharapkan memberikan informasi pengembangan dan pemanfaatan kayu sebagai sumber energi baru terbarukan sehingga menjadi bahan pertimbangan pemerintah meningkatkan keberhasilan program pengembangan bioenergi yang telah ada saat ini, khususnya pada HTI. Guna mendukung pengembangan energi berbasis biomassa hutan, di tahun kedua ini tim CDSR IPB akan melakukan penelitian analisis kelayakan usaha pelet kayu skala usaha kecil di Pulau Jawa dan Bali, serta penelitian lanjutan tahun pertama yakni potensi jabon putih sebagai bahan pelet kayu dan gasifikasi di Hutan Pendidikan Gunung Walat.

Kategori: Lingkungan, Energi, & Ilmu Kemaritiman