NCSTT Bicara Perempuan dan Teknologi

USAID SHERA secara konsisten terus mendorong keterlibatan perempuan dalam penelitian sains dan teknologi. National Center for Sustainable Transportation Technology (NCSTT) adakan The Seminar on Women Empowerment on Academic and Research Environment di Universitas Pertamina, Jakarta pada 26 September 2018. CCR ini menghadirkan beberapa sosok peneliti perempuan terkemuka dengan banyak prestasi. 

Sesi pertama mendatangkan Prof. Dr. Irawati, Wakil Rektor Sumber Daya dan Organisasi Institut Teknologu Bandung (ITB). Beliau memberikan pandangannya tentang stereotipe peneliti perempuan yang kesulitan untuk menyeimbangkang keluarga dan karir. Berbagi dari pengalamannya selama berkarir, Prof. Ira justru memanfaatkan insting sebagai ibu dalam prinsip kepemimpinan yang dianutnya. “Justru sebagai perempuan kita diuntungkan dengan kemampuan menganalisa kebutuhan tim yang membentuk karakter menjadi pemimpin yang peduli,” ujar ahli Matematika yang diangkat menjadi Warek sejak 2010 ini. 

Pendapat ini juga diamini oleh Dr. Farah Mulyasari, Wakil Dekan Fakultas Bisnis dan Ekonomi Universitas Pertamina. Dr. Farah yang merupakan ahli mitigasi bencana juga merasakan tantangan yang sama. Penelitian yang ia tekuni membuatnya sering berjauhan dengan keluarga. Namun keadaan ini justru memotivasinya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan berkolaborasi dengan peneliti lain di dalam dan luar negeri. 

Pengalaman menarik lainnya dikemukakan oleh Dr. Annisa Jusuf. Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB ini merupakan satu-satunya perempuan yang memiliki sertifikasi dari Inspektur Kelaikan Udara Militer pada 2017 di Indonesia. Dr Farah mencoba berbagi sudut pandangnya sebagai perempuan yang bergelut di bidang keselamatan transportasi. Sebagai seorang Ibu, keselamatan keluarga dalam berkendara sangatlah penting. Beliau sering terlibat dalam uji coba keselamatan berbagai jenis kendaraan di Asia Tenggara. Hal ini juga semakin memotivasinya sebagai peneliti NCSTT yang memang fokus dalam teknologi transportasi yang aman dan berkelanjutan. Walaupun seringkali menjadi satu-satunya perempuan di bidangnya, Dr. Farah merasa lingkungan kerjanya netral gender. 

Suka duka menjadi peneliti perempuan juga disampaikan oleh Sidrotun Naim, Ph.D., peneliti Surya University. “Menyeimbangkan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga dan peneliti hanyalah puncak gunung es, banyak tantangan lain yang lebih besar seperti penolakan, kecaman, dan pengalaman pahit lainnya,” ujar perempuan yang mengenyam pendidikan master di Arizona University dan Harvard University ini, Pengalaman tersebut yang justru memberikan pelajaran dalam menuju kesuksesan.

Kategori: Komunitas