Dr. Yuzda Salimi, M.Si – Ubah Eceng Gondok Danau Limboto jadi Bio Ethanol

Dr. Yuzda Salimi, M.Si – Ubah Eceng Gondok Danau Limboto jadi Bio Ethanol

 

Center for Development of Sustainable Region (CDSR), salah satu Center for Collaborative Research (CCR) USAID SHERA, berkomitmen untuk mengembangkan penelitian sumber energi terbarukan untuk daerah kepulauan. Hal ini terlihat dari salah satu aktivitas penelitiannya di Provinsi Gorontalo yang mengesplokasi sumber energi terbarukan yang dekat dengan keseharian warganya.  Dr. Yuzda Salimi, M.Si adalah salah satu peneliti CDSR dari Universitas Negeri Gorontalo yang melakukan penelitian biomassa untuk mencari sumber energi alternatif. Dr. Yuzda memilih untuk mengeksplorasi eceng gondok sebagai sumber energi. Eceng gondok dipilih karena keresahan akan jumlah tanaman hama ini yang sangat berlimpah di Danau Limboto, Gorontalo, hingga menutupi sebagian area permukaan danau. Mari mengenal lebih dekat penelitian Dr. Yuzda lewat bincang-bincang berikut ini:  

Mengapa memilih eceng gondok dari Danau Limboto sebagai objek penelitian Anda?

Saat ini Danau Limboto sudah mengalami pendangkalan. Banyak sekali eceng gondok yang menutupi sebagian area danau. Hal ini menyebabkan ikan-ikan endemik di danau tersebut terancam punah. Oksigen dan sinar matahari sulit masuk karena terhalang banyaknya eceng gondok.

Danau LimbotoSebagian area yang tertutup eceng gondok di Danau Limboto

Eceng gondok merupakan gulma air yang sangat cepat persebarannya. Bisa 3 % per hari. Sangat sulit bagi pemerintah untuk menanggulanginya apalagi dengan cara mematikan atau memusnahkan. Sehingga kita perlu mengubahnya menjadi suatu produk yang bisa bermanfaat. Salah satunya adalah bio etanol.

Apa kegunaan bio ethanol?

Sumber energi. Kebanyakan sumber energi yang digunaan saat ini adalah sumber energi fosil, nah salah satu sumber bahan bakal alternative adalah bio etanol. Bio etanol yang kami kembangkan untuk penelitian ini berasal dari eceng gondok.

Bagaimana proses pengolahan eceng gondok ini?

Ada tiga proses yaitu pengambilan sample, pra pelakukan, dan fermentasi. Sample kami ambil dari Danau Limboto. Eceng gondok ini dihaluskan dan diayak hingga halus. Tahap kedua adalah pra perlakukan dengan metode hidrolisis. Tujuan dari tahap ini adalah mengambil senyawa-senyawa dalam eceng gondok yang berpotensi menjadi ethanol. Eceng gondok mengandung selulosa yang sangat tinggi, sehingga kandungan selusosa ini harus dipisahkan dari kandungan lainnya dengan metode ini. Kami memisahkan selusosa, hemi selusosa, lignin dari senyawa lain. Hal ini bisa dilakukan dengan dua cara yaitu dengan hidrolisis asam dan enzimatis (memakai enzim).

Eceng GondokEceng gondok dihaluskan sebelum diproses secara kimiawi

Tahap selanjutnya adalah fermentasi. Kami melakukan fermentasi dengan bacteri Saccharomyces cerevisiae karena beberapa referensi menyatakan bakteri ini mampu merubah gula menjadi ethanol. Hal ini juga membutuhkan waktu dan perlakukan khusus dimana bakteri ini harus dikembangbiakkan dalam media kultur yang aseptik (keadaan bebas dari mikroorganisme penyebab penyakit). Setelah itu pun menumbuhkannya membutuhkan proses dan waktu. Jika sudah tumbuh banyak baru kita panen dan tambahkan dalam proses hidrolisis. Setelah itu kita identifikasi apakah mengandung athanol dan berapa persentasenya.

Apa tantangan dalam pengelolaan eceng gondok?

Hidrolisis asam. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa menetralkan “ph” sehingga “ph”nya tidak berubah. Kami melakukan berbagai cara replikasi dan kami juga banyak mempelajari metode yang bersumber dari jurnal yang sudah dipatenkan.

Kami melakukan modifikasi sesuai dengan “ph” tertentu. Lalu, kami harus melihat apakah sudah netral atau tidak. Setelah hidrolisis kemudian kita fermentasi.

Apa target penelitian di tahun pertama dan apa tantangan untuk mencapainya?

Pada tahun pertama kami bertujuan memproduksi sebanyak-banyaknya sumber bio ethanol yang berasal dari eceng gondok. Tahun pertama yang kami lakukan dengan cara hidrolisis asam dan menghasilkan serbuk eceng gondok dari “pretreatment” yang fungsinya mengubah selulosa itu menjadi gula, gula alcohol.

Saat kita kami melakukan hidrolisis, dibutuhkan waktu yang cukup lama karena kami harus menetralkan “ph”nya. Kami juga harus memperhatikan proses penyaringan dan pemanasan. Hal ini juga menjadi tantangan bagi kami karena walaupun metode ini telah dilakukan banyak orang dan telah berhasil, namun tidak semudah itu. Eksperimennya tidak  seperti mengikuti resep lalu langsung jadi. Perlu trik khusus dan kesabaran sehingga kami bisa mendapat jumlah sample yang tepat untuk kemudian bisa menjadi ethanol.

Apa rencana penelitian ini di masa depan?

Peneliti UNG

Proses tahun pertama ini baru kita uji secara kualitatif. Sehingga kami mendapatkan data apakah positif dia mengandung ethanol. Kami akan melanjutkan penelitian ini di tahun selanjutnya dengan melakukan identifikasi dari bioethanol yang sudah diproduksi pada tahun pertama. Jadi rencana ke depan kita akan identifikasi komponen bioethanol ini dengan alat Gas Chromatography (GC), X-ray Powder Diffraction (XRD), dan scan electron microscope. 

 

Kategori: Institusi Pendidikan