Detail Praktik Baik

Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk mengolah air bersih menjadi air minum, seperti merebus dan menyaring. Masyarakat urban juga kini lebih praktis membeli air minum kemasan dan isi ulang. Namun, yakinkah Anda dengan kebersihan air minum tersebut? Peneliti SHERA, Dr. Sri Yusnita Irda Sari, dr., MSc dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) membandingkan berbagai sumber air minum dan kandungannya, dalam penelitiannya yang bejudul “Comparison of Drinking Water Quality Following Boiling Household Filtration and Water Refill in an Urban Slum Area of a Developing Country” ini, ia dan tim mendapatkan dana hibah penelitian dari Kementerian Riset Dikti melalui Hibah Penelitian Kerjasama Luar Negeri dan bantuan publikasi melalui Scientific Modelling Application Research & Training for City Centered Innovation and Technology (SMART CITY).

 

Berawal dari masalah air di kawasan padat penduduk di kelurahan Tamansari, Bandung, dr. Sri Yusnita dan tim tergerak mempelajari kandungan dan perilaku dalam mengolah air minum di daerah tersebut. Kelurahan Tamansari merupakan kawasan kumuh perkotaan yang berada di pusat kota pada bantaran sungai Cikapundung dan tepat di bawah Jembatan Pasopati dengan penduduk yang heterogen. Sungai Cikapundung mengalir sampai ke sungai Citarum dan diketahui terkontaminasi limbah rumah tangga karena masih banyaknya penduduk dibantaran sungai yang tidak memiliki septik tank dan mengalirkan limbah dari jamban langsung ke sungai, sehingga sungai Cikapundung juga dijuluki sebagai septik tank raksasa. Hal ini tentu mengakibatkan tingginya risiko pencemaran pada berbagai sumber air yang ada disana. “Kami ingin melihat bagaimana perilaku masyarakat dalam mengolah air dari berbagai sumber, termasuk air tanah, mata air, serta air kemasan atau isi ulang,” ujar dr. Sri Yusnita. 

 

dr. Sri Yusnita melakukan penelitian bersama mahasiswa magister kesehatan masyarakat UNPAD dan mengambil sampel dari 55 rumah yang terdentifikasi memiliki sumber air yang tercemar. Sumber air yang tercemar berarti memiliki kualitas mikrobiologi yang tidak memenuhi standar. Sumber air yang digunakan oleh rumah-rumah ini berasal dari berbagai sumber seperti mata air, air sumur, dan air ledeng, yang kemudian di rebus. “Kami datang ke rumah responden dan meminta mereka mempraktekkan bagaimana cara merebus air, kemudian air itu kami ambil menjadi sampel untuk diuji kualitas mikrobiologi,” jelasnya. Di saat yang sama dr. Sri Yusnita juga mengolah sumber mata air yang sama dengan menyaring menggunakan alat penyaring air berbahan keramik untuk membandingkan efektifitasnya dengan metode perebusan. Kedua sampel air dari air yang direbus dan air yang disaring kemudian diperiksa di labolatorium. Selain itu, ia juga mencari 55 rumah responden lain yang membeli air kemasan atau isi ulang dan memeriksa sampelnya.  

air sample

Hasilnya, air yang disaring ternyata lebih bersih dari air yang direbus, dengan perhitungan World Health Organization(WHO) yang disebut “log removal reduction”, dr. Sri Yusnita menemukan bahwa metode pengolah air  dengan filter keramik menunjkan hasil lebih baik. Kuman Coliformbisa dikurangi hingga 76.63% dan E.coli berkurang hingga 100% dengan penyaringan keramik. Sedangkan dengan merebus air, kuman Coliformhanya berkurang 40% dan E.coli96.36%. Hasil untuk air isi ulang juga cukup mencengangkan. Hanya 54% air isi ulang yang bebas dari kuman. Hal ini menunjukkan resiko terserang penyakit yang diakibatkan air yang tercemar, seperti diare, apabila mengkonsumsi air isi ulang atau air yang direbus cukup besar. dr. Sri Yusnita menjelaskan bahwa ada dua penjelasan untuk hasil tersebut. Yang pertama adalah cara penyimpanan air yang salah, termasuk tidak membersihkan dispenser untuk air isi ulang atau mencuci peralatan masak, makan dan minum langsung dari sumber mata air yang tercemar. “Setiap mengisi air isi ulang, dispenser harus dibersihkan,” ujar dr. Sri Yusnita. Kedua, pengolahan air di depot air isi ulang tidak efektif sehingga masih ada kuman yang tertinggal. Saat ini, dr. Yusnita dan tim sedang melanjutkan penelitian yang lebih dalam terkait air isi ulang. Sedangkan untuk air yang direbus, hasil observasi lapangan menunjukan bahwa masyarakat khususnya diwilayah kumuh perkotaan masih mempraktekan cara yang salah seperti mematikan kompor sebelum air betul-betul mendidih dengan alasan penghematan gas.

 

Apa standar air minum yang bersih?

Standar air minum yang bersih sudah dijelaskan oleh WHO dan Kementrian Kesehatan (KEMENKES). Air minum harus memenuhi 4 macam standar, yaitu parameter fisik, parameter kimia, parameter biologi, dan parameter radiasi. Penelitian dr. Sri Yusnita fokus pada parameter biologi. Apakah air tersebut mengandung bakteri seperti E.colidan Coliform? Air minum yang bersih adalah yang tidak terkontaminasi kedua bakteri tersebut. Kedua bakteri ini menjadi standar karena bakteri ini ditemukan di usus manusia dan usus hewan. Jadi bisa diidentikkan dengan adanya cemaran tinja. “Begitu air positif mengandung bakteri ini maka bisa diasumsikan air ini tercemar oleh tinja, baik tinja manusia atau hewan,” tambahnya. 

 

Bagaimana metode terbaik dalam pengolahan air rumah tangga?

Sesuai dengan rujukan WHO, dr. Sri Yusnita menyarankan beberapa cara sederhana yang bisa diikuti masyarakat. Teknik yang paling popular adalah dengan merebus. Namun, rebuslah dengan teknik yang benar. Air harus direbus hingga bergolak sampai setidaknya 3 menit. Jika mengambil air dari sumber yang terkontaminasi, maka peralatan makan yang dicuci dengan air tersebut akan terkontaminasi. Maka, cucilah peralatan tersebut dengan air yang sudah direbus. Selain itu, air juga bisa disaring dengan material yang sudah terbukti dapat menyaring kuman, salah satu metode pengolah air sederhana yang dapat digunakan dirumah tangga adalah menggunakan filter air keramik. “Bisa juga menggunakan serbuk klorin untuk mematikan kuman, namun kurang popular karena menghasilkan bau,” cerita dr. Sri Yusnita. Serbuk klorin juga sering digunakaan pada saat bencana seperti untuk membersihkan sumur yang tercemar atau digunakan untuk mengolah air baku menjadi air minum.

xpenyimpanan air

Untuk air kemasan dan isi ulang, dr. Sri Yusnita menyarankan untuk selalu membersihkan galon dan dispenser secara teratur. Cara membersihkan dimulai dari mulun galon dan diputar ke bawah. Penting juga untuk memperhatikan depot pembelian air minum tersebut. Belilah di tempat yang bersih dan terpercaya terutama yang selalu menguji hasil pengolahan airnya di laboratorium.

 

Air minum merupakan kebutuhan pokok manusia sehari-hari, apa yang kita konsumsi akan mempengaruhi derajat kesehatan kita, oleh karena itu sangat penting untuk memperhatikan kualitas sumber air kita dan senantiasa menjaga lingkungan kita agar tidak tercemar. 

Kategori: Pembangunan dan Perencanaan Tata Kota